Disinyalir Mampu Menghasilkan Anggaran Yang Menggiurkan, Masjid Keramat Cagar Budaya Pasalakan Jadi Ajang Rebutan 2 Kubu.

Kab. Cirebon, Bisikbisik.id – Benda cagar budaya, adalah benda peninggalan masa lampau yang sudah bisa dipastikan berusia ratusan tahun usianya. berbagai macam nama dan bentuk, benda cagar budaya tersebut saat ini terus dirawat serta dilestarikan keberadaannya. baik oleh perseorangan maupun perkumpulan, bahkan hal itu juga dilindungi oleh undang-undang yang mengikat. dengan kata lain, benda cagar budaya adalah benda yang tidak boleh sembarangan dikelola maupun dirawat oleh orang-orang yang tidak punya disiplin ilmu dan keahlian juga pengalaman. dan dari sekian banyak benda cagar budaya, ada satu yang masih dipakai untuk aktifitas oleh banyak orang dalam melakukan ibadah. yakni masjid, namun masjid cagar budaya atau yang dikeramatkan ini sangat berbeda dengan masjid-masjid seperti kebanyakan. perbedaan yang paling mencolok adalah, selain bentuk bangunannya. nama pengurus masjid pun berbeda, kalau untuk masjid yang baru berusia puluhan tahun bernama DKM (dewan kemakmuran masjid). tapi kalau untuk pengurus masjid tua yang berusia ratusan tahun dan bernilai sejarah masa lampau hingga disebut sebagai benda cagar budaya, namanya adalah Khaum.

Di negara Republik Indonesia ini, banyak bertebaran masjid-masjid bersejarah. salahsatunya adalah Masjid Keramat Syekh Abdurakhman, masjid sejarah dan sudah diakui sebagai cagar budaya ini terletak di wilayah Kelurahan Pasalakan Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat. karena sifatnya yang dikeramatkan dan terletak berdampingan dekat dengan makbaroh (makam Syekh Syarif Abdurrahman Al Usmani), masjid ini tidak pernah sepi jama’ah maupun pengunjung. apalagi pada hari-hari jum’at, saat aktifitas jama’ah sholat jum’at berlipat ganda jumlahnya. dan disinyalir mampu menghasilkan anggaran yang menggiurkan dari kotak amal, membuat keberadaan Masjid Keramat Cagar Budaya tersebut jadi rebutan 2 kubu yang masing-masing merasa punya andil untuk memakmurkan masjid bahasanya.

Terlepas dari niat baik maupun buruk, keadaan itu nyata adanya. saat wartawan media ini secara tidak langsung terlibat pada permasalahan 2 kubu tadi, dari fakta yang ada dan didengar langsung. kedua kubu itu sebut saja kubu pertama adalah kubu Kyai Bahrudin, dan kubu kedua adalah kubu Kendra. kedua kubu tersebut dulunya adalah satu kesatuan pengurus yang harmonis, namun berubah saat Kendra meminta pensiun sambil meminta uang kotak amal hari jum’at untuk pesangon namun ditolak oleh Kyai Bahrudin.

Penolakan permintaan uang pesangon yang ditolak tersebut berbuntut panjang, kubu Kendra (70 Tahun) menurut kubu Kyai Bahrudin selalu bikin ulah. beberapa kotak amal terlihat selalu kosongpun diduga adalah ulah Kendra, bahkan beberapa pembangunan infrastruktur yang menurut Kendra lewat penuturan kubu Kyai Badrudin (50 Tahun kurang lebih) pun dibantah oleh kubu Kyai Bahrudin kalau pembangunan itu bukan hasil kerja Kendra dari uang Masjid tapi sumbangan Pokir Anggota DPRD Kabupaten Cirebon. dan masih banyak yang lain, yang tidak akan muat ditulis disini. hingga puncaknya, pada Sabtu 24 Desember 2022. wartawan media ini diundang oleh temannya yakni warga Kelurahan Pasalakan untuk memecahkan permasalahan adanya selebaran undangan pelantikan pengurus masjid cagar budaya yang bernama khaum (DKM) yang dilaksanakan pada hari Minggu 25 Desember 2022 dan ditandatangani oleh Patih Keraton Kasultanan Kasepuhan saat ini dan diluar dari pengurus yang diketuai oleh Kyai Bahrudin, S.Kom.I yang sudah mengklaim diri dipilih oleh masyarakat. karena keresahan yang dialami oleh kubu Kyai Badrudin tadi, dan dimohon oleh temannya. wartawan media ini mulai bergerak menelusuri Keraton Kasepuhan untuk bertemu dengan Patih, namun sesampainya dilokasi hanya bertemu dengan Lurah Dalam Keraton bernama Maskun yang didampingi oleh Elang (sebutan bangsawan keraton) Ayi.

Dalam pertemuan tersebut, wartawan dan temannya tidak menemui hasil. hingga mendapatkan petunjuk dari Lurah Maskun untuk menemui Raden Parja di Keramat Tuk Pangeran Mancur Jaya Desa Tuk Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon, disana akhirnya keresahan kubu Kyai Bahrudin terjawab. namun Raden Parja hanya berbicara bahwa dia akan berusaha menemui Patih, dan akan segera memberikan kabar secepatnya. dan di malam harinya pada pukul 20.30 WIB, rapat dewan pengurus Masjid kubu Kyai Badrudin sedang dilaksanakan. dan menjelang akhir rapat, Raden Parja datang dan memberi tahu bahwa tidak akan ada acara pelantikan yang ada adalah acara musyawarah.

Perlu untuk diketahui bersama, bahwa menurut undang-undang tentang situs cagar budaya. bahwa kepengurusan Masjid Keramat Syekh Abdurakhman Pasalakan itu dipilih dan diangkat oleh Kasultanan Kasepuhan bukan oleh masyarakat. kalau untuk Masjid biasa memang dipilih oleh masyarakat dan di sah kan oleh pemerintah setempat, jadi dalam hal ini kedua kubu yang berseteru belum bisa dikatakan menjadi pengurus Masjid Keramat situs cagar budaya secara undang-undangnya. (Kusyadi)

Berita terbaru lainnya

spot_imgspot_img

Related articles

Leave a reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_imgspot_img