SIMRS Dinamika dan Evaluasi Sistem di Luar Kepuasan PenggunaSIMRS Dinamika dan Evaluasi Sistem di Luar Kepuasan Pengguna
Spread the love

Bagaimana rumah sakit mengetahui bahwa sistem digitalnya benar-benar diterima oleh tenaga kesehatan? Survei kepuasan dapat memberi gambaran pengalaman pengguna, tetapi hasilnya belum tentu menjelaskan alasan mereka terus menggunakan aplikasi. Persoalan ini menjadi sorotan dalam riset SIMRS Dinamika yang menelaah penggunaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dalam lingkungan kerja dengan aturan pemakaian wajib.

Ketika sebuah aplikasi menjadi bagian dari prosedur kerja, pengguna tetap perlu mengoperasikannya untuk menjalankan tugas. Kondisi tersebut membuat hubungan antara kepuasan dan niat menggunakan sistem menjadi lebih kompleks. Rumah sakit perlu memahami faktor lain yang ikut membentuk penerimaan teknologi, termasuk pengaruh lingkungan profesional dan kemudahan pengoperasian aplikasi.

Kajian ini merupakan kolaborasi Universitas Dinamika, James Cook University Singapore, dan STIKES Yayasan RS Dr. Soetomo. Dipimpin oleh Sulistiowati dan Erwin Sutomo, penelitian dilakukan di RSU dr. Suyudi Paciran, Kabupaten Lamongan. Sebanyak 90 tenaga kesehatan menjadi responden, dengan data yang dianalisis menggunakan metode statistik PLS-SEM.

Hasil penelitian diterbitkan dalam Jurnal Manajemen Kesehatan Yayasan RS. Dr. Soetomo, Volume 12, pada April 2026. Publikasi pada jurnal terindeks Sinta 2 tersebut menghadirkan sudut pandang untuk memahami adopsi sistem di rumah sakit daerah. Perhatian utamanya terletak pada hubungan antara pengalaman pribadi pengguna, tuntutan pekerjaan, dan dorongan sosial di lingkungan organisasi.

Temuan SIMRS Dinamika tentang Batas Survei Kepuasan

Temuan yang disebut paradoks kepuasan pengguna menunjukkan bahwa kepuasan pribadi tidak berpengaruh signifikan terhadap niat menggunakan sistem dalam konteks penelitian tersebut. Artinya, penilaian positif terhadap pengalaman memakai aplikasi belum cukup untuk menjelaskan niat pengguna ketika pengoperasian sistem sudah diwajibkan oleh organisasi.

Hasil ini perlu dibaca sesuai ruang lingkupnya. Tidak adanya pengaruh yang signifikan dalam penelitian tersebut tidak berarti kepuasan pengguna boleh diabaikan. Survei tetap dapat membantu mengenali keluhan dan pengalaman penggunaan. Namun, pengelola membutuhkan informasi tambahan untuk memahami faktor yang mendorong tenaga kesehatan menerima sistem dalam pekerjaan sehari-hari.

Faktor pertama yang teridentifikasi adalah norma subjektif, yakni pengaruh atasan dan rekan kerja. Dalam penelitian ini, dorongan dari lingkungan profesional menjadi faktor paling dominan. Temuan tersebut menempatkan hubungan sosial di tempat kerja sebagai bagian penting dalam pembahasan adopsi teknologi rumah sakit.

Faktor kedua adalah kemudahan penggunaan. Aplikasi dengan alur yang sederhana membantu tenaga kesehatan menjalankan tugas tanpa menghadapi terlalu banyak hambatan teknis. Karena sistem dipakai dalam aktivitas rutin, kejelasan tampilan dan langkah pengoperasian menjadi aspek yang perlu mendapat perhatian dalam evaluasi.

Faktor ketiga berkaitan dengan reputasi profesional. Penggunaan teknologi digital turut berhubungan dengan citra positif dokter dan perawat di lingkungan kerjanya. Dengan demikian, penerimaan sistem juga memiliki dimensi sosial, termasuk bagaimana pengguna memandang kaitan teknologi dengan peran profesional mereka.

Riset SIMRS Dinamika memberi dasar untuk memperluas pertanyaan evaluasi. Selain menanyakan apakah pengguna merasa puas, pengelola dapat menelaah dukungan yang mereka terima, kemudahan menjalankan tugas, dan pengaruh kebiasaan kerja bersama. Pendekatan ini membantu menempatkan pengalaman pengguna dalam konteks organisasi yang lebih lengkap.

Evaluasi Perlu Melihat Dukungan Kerja dan Kemudahan Sistem

Implikasi praktis dari temuan tersebut adalah perlunya melihat penerapan SIMRS sebagai bagian dari pengelolaan organisasi. Pengadaan aplikasi perlu diikuti perhatian terhadap cara tenaga kesehatan beradaptasi dan memperoleh dukungan dalam penggunaannya. Evaluasi kemudian dapat diarahkan untuk memahami hambatan yang muncul dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Pada aspek dukungan kerja, perhatian dapat diberikan pada peran atasan dan rekan sejawat. Temuan mengenai norma subjektif menjadi alasan untuk menelaah bagaimana arahan penggunaan sistem disampaikan dan bagaimana kebiasaan bersama terbentuk. Hal ini memberi ruang bagi rumah sakit untuk memperkuat pendampingan sesuai kebutuhan penggunanya.

Pada aspek aplikasi, penambahan fitur perlu mempertimbangkan kemudahan operasional. Fitur baru belum tentu menjawab kendala apabila alur penggunaannya tetap membingungkan. Karena itu, penyederhanaan tampilan dan proses kerja layak menjadi bagian dari pembahasan pengembangan, terutama pada rumah sakit daerah yang memiliki sumber daya terbatas.

Cara pandang ini relevan dengan konteks regulasi digitalisasi layanan kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 mengatur penyelenggaraan rekam medis elektronik, sedangkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2013 menjadi landasan penerapan SIMRS. Kewajiban tersebut memperkuat kebutuhan untuk memahami bagaimana sistem diterapkan dalam kegiatan operasional.

Dari sisi pembangunan, riset SIMRS Dinamika memiliki keterkaitan dengan SDG 3 melalui arah peningkatan kualitas layanan kesehatan dan SDG 9 melalui pengembangan infrastruktur digital yang mudah digunakan. Kontribusinya terutama berupa masukan untuk merancang pendekatan adopsi, sehingga manfaat pelayanan tetap perlu dilihat melalui penerapan dan evaluasi di masing-masing rumah sakit.

Relevansinya dengan Asta Cita juga terlihat pada penguatan sumber daya manusia, sains, dan teknologi, serta perhatian terhadap pembangunan dari daerah. Studi di Lamongan menghadirkan konteks lokal yang dapat menjadi bahan pembelajaran. Rumah sakit lain tetap perlu mempertimbangkan kondisi organisasinya sebelum mengadaptasi rekomendasi penelitian.

Riset SIMRS Dinamika mengajak pengelola melihat lebih jauh dari hasil survei kepuasan. Dukungan lingkungan kerja, kemudahan aplikasi, dan konteks penggunaan wajib perlu dibaca bersama untuk memahami adopsi sistem. Evaluasi yang mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dapat membantu rumah sakit menentukan perbaikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan.

By Nursaid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *