Informasi kesehatan dapat menjangkau mahasiswa melalui ruang yang mereka gunakan setiap hari. Salah satunya adalah toilet, tempat pesan tentang kecukupan cairan memiliki konteks yang dekat dengan aktivitas pengguna. Pendekatan edukasi hidrasi di kampus ini hadir melalui Toilet Pintar Undika yang memadukan poster informasi kesehatan dengan pencahayaan otomatis.
Poster ditempatkan pada pilar toilet dan menampilkan panduan mengenai kepekatan warna urine. Kehadirannya mengajak mahasiswa maupun staf memberi perhatian pada kebutuhan cairan tubuh di tengah kegiatan mereka. Pesan kesehatan tersedia di fasilitas bersama, sehingga dapat dijumpai tanpa harus mengikuti penyuluhan khusus.
Penempatan tersebut memperluas fungsi toilet sebagai ruang layanan kampus. Selain memenuhi kebutuhan dasar pengunjung, fasilitas ini menjadi tempat untuk menyampaikan pengetahuan praktis. Informasi yang dekat dengan situasi pengguna dapat menjadi pengingat untuk memperhatikan kebiasaan sehari-hari.
Dari sudut komunikasi, pendekatan ini menempatkan pesan kesehatan dalam konteks yang relevan. Pembaca menjumpai informasi tentang urine ketika berada di ruang yang berkaitan dengan topik tersebut. Hubungan antara isi pesan dan lokasi penyampaiannya memberi dasar bagi pemanfaatan toilet sebagai media edukasi.
Edukasi Hidrasi di Kampus melalui Informasi Visual yang Mudah Dijumpai
Poster pada Toilet Pintar Undika menggunakan indikator warna urine untuk mengenalkan pentingnya memperhatikan kecukupan cairan. Bentuk visual membantu menyampaikan informasi melalui perbandingan warna yang dapat diamati. Tujuannya adalah menghadirkan pengingat yang mudah dijumpai dalam kegiatan rutin mahasiswa dan staf.
Namun, warna urine perlu dipahami sebagai salah satu petunjuk awal. Makanan, obat, dan suplemen vitamin juga dapat memengaruhi warnanya, termasuk ketika kebutuhan cairan seseorang sudah tercukupi. Karena itu, pembacaan warna tidak cukup untuk memastikan tingkat dehidrasi atau menentukan adanya gangguan ginjal.
Batas pemahaman ini menjadi bagian penting dari penyampaian informasi kesehatan. Poster berfungsi sebagai sarana pengenalan dan pengingat, dengan pesan yang mendorong perhatian terhadap tubuh. Penyajiannya perlu membantu pembaca memahami kegunaan indikator sekaligus menghindari kesimpulan medis hanya berdasarkan satu pengamatan.
Melalui edukasi hidrasi di kampus, fasilitas bersama dapat mendukung penyampaian pengetahuan di luar ruang kelas. Pengunjung memiliki kesempatan untuk menemukan pesan yang sama saat kembali menggunakan toilet. Pertemuan berulang dengan informasi membuka ruang untuk mengingatnya, meskipun perubahan kebiasaan tetap bergantung pada respons masing-masing pengguna.
Pendekatan tersebut berkaitan dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera melalui penyampaian pesan mengenai kebiasaan menjaga kesehatan. Hubungannya dengan SDG 4 terletak pada kesempatan memperoleh pengetahuan praktis di lingkungan kampus. Ruang belajar pun meluas ke fasilitas yang digunakan dalam keseharian.
Peran Desain Komunikasi dalam Fasilitas Kampus
Keberadaan poster saja belum menjelaskan bagaimana sebuah pesan dapat dipahami. Isi, susunan informasi, dan elemen visual perlu bekerja bersama agar pembaca mengenali maksudnya. Pada media kesehatan, kejelasan penyajian juga membantu menjaga agar pesan tidak menimbulkan penafsiran yang berlebihan.
Di sinilah edukasi hidrasi di kampus memiliki kaitan dengan kompetensi S1 Desain Komunikasi Visual. Pengolahan pesan publik menjadi media yang informatif membutuhkan kemampuan memilih dan menata unsur visual. Bidang keilmuan tersebut mendukung penyampaian informasi agar lebih mudah dibaca serta dipahami pengunjung.
Konteks penggunaan toilet juga perlu dipertimbangkan dalam penyusunan media. Informasi perlu disajikan secara ringkas dan terarah agar inti pesannya dapat dikenali. Penjelasan mengenai fungsi indikator membantu pembaca memahami bahwa warna urine merupakan bahan perhatian awal dalam menjaga kecukupan cairan.
Selain poster, Toilet Pintar Undika dilengkapi sensor gerak di langit-langit untuk mengatur pencahayaan. Lampu menyala ketika gerakan terdeteksi dan dipadamkan ketika tidak ada aktivitas yang terdeteksi, sesuai pengaturan perangkat. Mekanisme ini membantu mengurangi waktu menyala yang tidak diperlukan.
Kedua elemen tersebut memenuhi kebutuhan berbeda dalam satu fasilitas. Poster membawa fungsi komunikasi kesehatan, sedangkan sensor mendukung pengelolaan energi. Pengguna menjumpai ruang yang dirancang untuk memberi penerangan sesuai kebutuhan sekaligus menyediakan informasi yang relevan dengan aktivitas di dalamnya.
Otomatisasi pencahayaan berkaitan dengan kompetensi S1 Teknik Komputer dan S1 Sistem Informasi dalam pengembangan perangkat pintar serta sistem kontrol bangunan. Penerapannya memiliki hubungan dengan SDG 7 pada aspek efisiensi energi dan SDG 9 melalui pemanfaatan teknologi dalam infrastruktur kampus.
Upaya mengurangi konsumsi listrik yang tidak diperlukan juga sejalan dengan arah SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim. Fungsi pengelolaan energi melengkapi penyampaian pesan kesehatan dalam pengembangan fasilitas kampus.
Dalam kerangka Asta Cita, perhatian pada pendidikan dan kesehatan berhubungan dengan poin keempat mengenai penguatan sumber daya manusia. Efisiensi energi berkaitan dengan poin kedua, sementara kepedulian terhadap pengguna dan lingkungan dapat dihubungkan dengan semangat keselarasan kehidupan pada poin kedelapan. Nilai tersebut diterapkan melalui pengelolaan fasilitas sehari-hari.
Toilet Pintar Undika menunjukkan bahwa edukasi hidrasi di kampus dapat ditempatkan pada ruang yang dekat dengan kebiasaan penggunanya. Poster menghadirkan informasi untuk diperhatikan, sementara pencahayaan otomatis mendukung penggunaan energi sesuai kebutuhan. Keduanya memperluas fungsi toilet sebagai fasilitas bersama yang turut membawa pesan kesehatan dan kepedulian lingkungan.
